Archive for the ‘Kata Wacana’ Category

Di dalam demokrasi kontemporer, siapa pun kita, lepas dikehendaki atau tidak dikehendaki, setiap kita, dengan sendirinya terlibat di dalam suatu perkubuan politis. Tidak ada subyek yang netral dari politik. Di dalam matriks demikian, yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana dimungkinkan, politik dengan suatu pendasaran etis-emansipatif ?

Sewaktu Machiavelli mengatakan bahwa politik adalah ketegangan antara virtu (hal-hal yang bisa diprediksi yang dalam tradisi Italia menunjuk pada atau berasal dari kata lama ”vir” yang artinya laki-laki) dan ”fortuna” (hal-hal yang tidak bisa dipastikan), maka Machiavelli membuka peluang untuk berlangsungnya sebuah pertemuan yang unik, ganjil, tetapi sekaligus megah dan menggembirakan.

Sebuah pertemuan antara dua kubu pemikiran politik yang selama dan sebelum ini sulit untuk dibayangkan dapat direkonsiliasikan: republikanisme klasik dan paham subyek radikal Lacanian. Yang satu biasanya dikesankan konservatif, sementara yang satunya lagi dipandang terlampau radikal dan ekstrem.

Kembali ke virtu dan fortuna. Kalau politik adalah ketegangan antara virtu dan fortuna, maka politik yang sejati pada akhirnya harus berhenti atau bertitik pada keputusan. Politik pada akhirnya adalah momen ”s u b y e kt i f ”, di mana subyek bertindak. Lebih jauh lagi adalah bertindak yang bukan sembarang bertindak, tetapi bertindak dalam kerangka memutuskan atau memecah ketidakpastian dan ketegangan.

Dengan itu, maka di dalam Machiavelli, bertindak tidak sama dengan ”aksi” atau sekadar bertindak dalam pengertian kaum behavioralis. Bertindak dalam Macvhiavelli adalah bertindak dengan implikasi mengubah koordinat situasi. Apa hubungan ini semua dengan Lacan?

More
Tags: , , ,   |  Posted under Kata Wacana  |  Comments  19 Comments
Last Updated on Friday, 29 January 2010 12:54